Skip to main content

Posts

Kasih yang Tidak Selayaknya Diperoleh

Untuk kasihMu yang agung, untuk rencanaMu yang melampaui cita-cita untuk pikiranMu yang melampaui segala akal Terimakasih.

Mari, datanglah

Mari, datanglah Aku sedang membangun bagiku tempat bernaung yang sejuk. Tempat bersandar yang empuk ketika jiwa penat Makanan dan minuman yang memulihkan ragawi Musik yang indah dan tawa yang mewaraskan pikiran Pembaringan yang nyaman dan melelapkan mata Mari, datanglah Aku mengisi hatiku dengan kata-kata nasihat terpatri di ingatku agar aku berjalan menurut jalan orang bijak Agar tidak kuulang kejatuhan yang memalukan Bapakku Agar kutinggalkan bibir dolak-dalik yang menggerutukan Ibuku Mari, datanglah Aku tidak punya guru ksatria atau pahlawan Aku tidak mengagungkan keperkasaan dan timbunan pundi Aku tidak menyanjung wanita karena tubuhnya yang molek Mari, datanglah Aku mencintai kesetiaan Aku mengerjakan kemanfaatan Aku mencintai cara hidup kesahajaan Aku menyukai cara wajar dan belas kasihan

Bersyukur disertai Rasa Cukup

Perjalanan ini sudah cukup jauh, dan tentu saya berharap panjang umur untuk lebih jauh. Terimakasih atas hidup dan pengalaman didalamnya. Pengalaman akan pendidikan dan pergaulan sosial. Pengalaman akan kecukupan dan kekurangan. Pengalaman akan tawa dan kesedihan. Tidak selalu mudah untuk mengenali diri, membangun dan berdiri di atas kehendak pribadi dewasa ini. Ada serbuan keinginan yang muncul di halaman awal pikiran setiap hari, ada ribuan tantangan dan peluang, sekaligus kekuatiran yang akan menghabiskan daftar yang panjang jika diurutkan satu-per satu. Uang datang dan pergi dengan berbagai cara dan upaya. Mendatangkan uang berarti melakukan upaya dan kerja. Hampir semua aspek kehidupan melibatkan uang - sebagai kuantitas energi, meski bukan takaran yang adil. Itulah sebabnya uang disebut juga perlindungan setelah hikmat. Orang tua kita dan kita melakukan sejumlah investasi untuk meneruskan kehidupan. Bekerja dan membayar biaya pendidikan untuk mendirikan sebuah korporasi ...

New Kids di Terasan

Uing... uing... Sudah tiga hari ia menguing di emperan. Tidak ada yang peduli, pun aku - kecuali seorang anak kecil anak tukang parkir yang suka mengusili mahluk kecil itu. Kadang ia menarik kakinya, kadang ekornya. Hari pertama ia terlihat bersih, gemuk dan lucu, namun itu tak membuatku mengatakan sesuatu. Aku selalu melewatinya ketika keluar masuk. Di hari ketiga ia lusuh, bulunya kini abu-abu, dan matanya berkedip-kedip. Banyak kotoran menempel disana. Namun di hari ketiga, pagi itu, aku memandangnya sejenak, keluar dari kesibukan dan keacuhan yang kusengaja. Uingg...uingg.... "Ah, anak kucing malang ini" pikirku. Aku segera beranjak dari kursi, dan membawakan sekaleng Bear-brand. Hanya butuh lima menit untuk mengenalkan padanya "ini susu". Dan akhirnya dia dengan lahapnya, dan tertidur hingga tengah hari di bawah meja. .............

Kejatuhan kedua

Jika ini adalah bulatan dimana jiwa berpijak, aku punya ruang untuk bergerak diantara dunia atas dan bawah baru saja kutangkap desus ketika aku menerka yang tak harus diterka seperti sedap-sedapan malam pupus tak dinyana berlelah-lelah adalah upaya berleha-leha adalah kebodohan bertanya-tanya adalah keduanya bila kijang terluka adakah pemburu mengatai ia malang? bila pemburu tersesat siapakah yang akan menopang?

2013

Syukur, atas jiwa dan nafas kehidupan.

Aku bahagia - Coki dimana ya?

Aku mengatakan pada diriku sendiri, aku sedang bahagia. Bila kau ada disisiku menghampiri, kau akan bertanya mengapa? Dan kau pun mungkin ragu, karena aku tak fasih menjawab.   Aku tidak mengalami perubahan kontras, sehingga kau bisa mengerti dengan melihat. Dan pertanyaanmu sungguh kupahami, karena sifat afeksimu yang kusukai. Ah, aku masih disini, namun tanah hatiku makin subur hari demi hari - belakangan ini. Aku mengurangi daftar komplain dan kritik terhadap diriku. Sebulan lalu, aku berulangkali berkata pada diri sendiri, berhentilah menghukum diri, kau harus memperlakukan dirimu lebih baik. Dan lihat, aku mau! Aku berhenti menghitung tahun-tahun yang berlalu. Adakah kau masih menghitung kerugian akibat kemarau di masa lalu? Tak ada hujan untuk mengembalikan kekeringan tanah di masa lalu. Hujan yang kau nantikan adalah sekarang dan untuk esok. Bukan karena setiap kebutuhanku sangat mudah terpenuhi - sehingga aku bahagia saat ini. Aku bahagia karena kutau ada jalan p...