Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Tahapasaja

Buat Sesuatu

Perasaan jenuh selalu menyisip di sepanjang waktu. Dua tahun lebih sudah menjalani aktivitas ini. Syukur adalah kata yang paling banyak ditemukan dalam tubuh keseluruhan cerita selama dua tahun ini. Dengan kata ini saya bilang saya senang menjalani - sebagian! Saya harusnya mendapat lebih banyak dan lebih bahagia. Menghabiskan waktu belasan jam tiap hari atas nama kerja, kerja, kerja. Dan lagi saya katakan syukur, selalu merasa sehat dan tidak ada gangguan yang berarti. Sesekali saat menemukan pakaian lama, saya bertanya "mengapa tidak se-pas yang dahulu?" Saya bisa menebak jawaban diri sendiri, pakaian lama yang sudah sering dipakai akan semakin longgar. Saya merasa berubah - sedikit lebih gemuk dari dahulu, tetapi pakaian ini jauh lebih cepat melar dari penggemukan saya. So? Change! segala sesuatu berubah, saya berubah, dan tak lupa pakaian saya juga berubah. Lakukan sesuatu yang berbeda!

Saat Tak Seorang Disampingku

Yang kusuka darimu adalah, selalu mengatakan dengan santun. Menunggu sampai orang selesai berbicara jika terlalu menyebalkan, memotong mereka jika tak menyukai selanjutnya. Ah semua orang begitu! Yang kusuka darimu adalah mengatakan cukup jika sudah cukup. Melupakan sesuatu seperti tidak pernah terjadi. Pura-pura? Ya! Menulis banyak rencana tetapi hanya sedikit yang terwujud … Ya, aku sedang menuju ke wujud itu. Hus, jangan potong dahulu. Dahulu? Kenapa tidak mengatakan “Jangan potong sekarang?” Karena bahasa terlalu rumit atau malah gampang dimengerti. Semua orang tahu selalu ada komparitas rumit, sulit, mudah, gampang… Ya, tapi bahasa bukanlah gampangan. Ia menggunakan lidah, tangan, kaki, bibir, kelopak mata, bola mata, bahkan hidung untuk mengatakan “hei kau bau!”, atau “hei manis…” dan kucingku selalu saja mengikutkanku. Hmm. Dia tak mengerti bahasa kau! Jadi, apa yang mau kau katakan apa? Aku hanya mau katakan, aku ingin menulis. Saat tak ada seorangpun disampingku. Menunggu...

Belum Tidur

Aku memandangi plank yang baru selesai kupasang, sejenak! Sambil menghela nafas aku bergumam huh, dan senyum panjang menghiasi bibirku (andainya seseorang memperhatikan itu). Sloopy entah kemana. Perut terasa menggigit, kulihat angka di sudut kanan bawah komputerku 2:49. Pantess Sloopy kabur, dari tadi dia sudah menunggu, mana warung tempat sarapan kami tidak buka, ditambah makan siang kesorean. Sori Slovai! Begitu bisik dalam hatiku. Usai makan siang sore itu, aku menghampiri Facebook . "Entah apa faedah berlama-lama hanya membaca komentar kajol (tidak jelas) orang-orangan situs perkomburan ini" Andai aku meluangkan waktu belajar satu bidang yang kuminati 25 menit x 3 kali dalam sehari, barangkali aku bisa menguasainya dalam satu atau dua tahun. "Ah, besok tak perlu lagi kubuka fesbuk ini" begitu gerutuku tiap selesai menutup Facebook. Tapi nyatanya, sampai hari ini aku masih buka, apalagi kemarin ada seorang teman ( fesbuk ) yang ngajak ngobrol. Ingin tahu, ka...

Demokrasi - Manajemen Resiko ala Markowitz

Bulan ini dan beberapa hari ke depan penuh dengan perhelatan pesta demokrasi. Pesta demokrasi apa seminar demokrasi? Kedua-duanya sama saja bikin meriah dan mendidik. Pagi ini, seperti biasa jalanan macet. Saya tidak terjebak macet - hanya pengamat kemacetan lewat jendela kamarku, mengingatkan satu subjek matakuliah empat tahun lalu, sambil mengucek mata melihat keluar - itu dia Diversifikasi Portofolio ala Harry M. Markowitz ! Berbicara demokrasi juga mengingatkan kita pada satu tokoh penting bernama John Locke (atau Anda malah teringat salah satu figur DemoCrazy di salah satu stasiun televisi?). Saya mulai mencoba mengingat, apa ada kesamaan antara Locke dan Markowitz. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan gambar ini. (tidak banyak kesamaan, yang satu botak, berkacamata dan yang satu lagi gondrong, tanpa kacamata - only joke ) Locke seorang penggagas dasar konstitusi demokrasi - pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Ya, penganjur apa yang sedang kita sibu...

Lautan dan Roti

Hidup adalah sesuatu yang menarik untuk disimak. Kita adalah hidup itu dan penyimak itu juga. Selalu ada cara dan kata yang mengalir. Berapa besar oplah semua surat kabar dan halaman media online yang terbit tiap pagi? Belum ada yang menghitungnya! Yang menarik adalah, bahwa mereka punya siklus sebagaimana hidup itu sendiri. Anda seorang seleb, anda selingkuh dan biarkan media meliput kehidupan anda, maka kepingan hidup anda terbentuk, bisa hanya sampai beberapa jam, hari, bulan, bahkan tahun. Terserah anda mau memusingkannya atau tidak. Orang peduli atau tidak peduli - sedasyat apa ledakannya, suatu saat akan menemui akhir siklusnya. Saya terkesan dengan kata-kata Mario Teguh, "hati seperti lautan yang luas, yang menopang langit yang luas". Semua pengalaman selalu ditampungnya, tak kenal itu baik maupun buruk, semua pasti benam di lautan hati. Seberapa luaskah hati itu? Kita tidak tahu berapa luasnya, tetapi volumenya (hati fisik) pastilah terukur. Mendengar kata-kata i...

Lagu Jadul - Lagu Batin

Ada dua lagu jadul (jaman doeloe) yang kudengar dan kunyanyikan hari ini. Sloopy belum juga tidur, ia memandangku penuh tanya. Heran. Karena nada suaraku tidak seperti biasa, lebih panjang dan ya, itu aneh pikirnya. Dia pasti belum mengerti bahwa manusia mengeluarkan suara untuk berbicara dan menyanyi. Lagu jadul yang pertama, mengingatkanku pada ibu nun jauh disana. Apa pulak maksud nun jauh disana? Ya, salah satu lagu yang kerap beliau nyanyikan selagi anak-anaknya tidur pulas ditimang udara subuh yang segar, sebelum matahari mewarnai deretan gunung di kejauhan dan menghijaui daun jambu biji di depan rumahm, sebelum si Nero menyelinap masuk kamar dan menjilat wajahku hingga aku terbangun. Artinya, ibu belum membuka pintu dapur, masih gelap - batang pohon rambutan masih belum jelas terlihat di belakang rumah. Aku hanya anak lelaki kecil kelas dua esde yang sudah menyiapkan pe-er hari sebelumnya, sementara tugas menyemir sepatu bapak sudah berhenti sejak tiga bulan sebelumnya. Karen...

Afirmasi Cinta Diri

I wanna call the stars, down from the sky, I wanna live a day, that never dies, I wanna change the world only for you, all the impossible I wanna do. Baik, anda pasti tahu tepatnya judul lagu itu. Tante manis Diana Ross pelantun yang tiada duanya. Seperti anda, saya juga masih ingat giginya yang kinclong membuat spirit lagu itu penuh di sanubari. Meski saya tidak begitu peduli akan makna lagu ini ketika di bangku sekolah dasar, tetapi saya sempat curi-curi baca majalah Aneka Yess-nya kakak saya karena fotonya dimuat disitu. Agama ketiga dunia ini adalah musik. Maksud saya bukan agama secara harafiah. Kita menemuinya dimana-mana - ketika anda di jalan, di tempat kerja, di kantin atau tempat anda makan siang, di atas kendaraan, dan ketika anda tiba di rumah, musik selalu setia mengiringi anda. Bahkan syair lagu yang kita dengar bisa lebih panjang dari bahan bacaan kita dalam satu hari. Kembali ke When you tell me that you love me. Ada banyak syair serupa, kebanyakan lagu menceritaka...

Mempertanyakan Ide

Dalam ketiadaan ide, ada ide menuliskan ketiadaan ide, dan itu ide juga. Pohon meranggas tertiup angin senja juga ide, sebuah ide yang mengatakan keberadaan angin dan siklus hidup pohon yang meranggas - bukan ubanan. Jika kau menuliskan kata-kata di kotak posting tanpa ide - kecuali keinginan untuk menulis yang tidak jelas dalam pikiran, itu juga ide. Entah apa ide! Melempar pandangan ke jalanan macet dan kebisingan yang sudah biasa merongrong gua telinga juga ide, ide tentang orang-orang modern dengan sifat aneh, orang primitif saja tidak suka kebisingan, masih suka berbisik meski hanya ada dua orang yang berbicara. Dan itu adalah ide yang tidak diperhitungkan ide. Dan sekarang aku harus keluar karena satu pesan singkat yang baru kuterima, dan itu juga ide - untuk melangkahkan kaki ini keluar dan membawa tubuh ini pergi dengan kaki. Lagipula bukankah ini hampir magrib?

Kolibri

Kolibri. Teringat satu judul dalam Apa dan Mengapa, ketika duduk di bangku kelas empat es-de. Mengapa burung kolibri melayang diam di udara? Hanya pikiran yang melayang - apa pendapat Anda ketika berbicara dengan perasaan? Sebutan keras kepala selalu kudengar ketika seseorang mengenalku cukup lama, atau cukup sering membicarakan masalah yang serius. Pada mulanya mereka terkesan karena mudah diajak berbicara, tetapi saat mereka memasuki wilayah tertentu, mereka bisa terhadang dan mesti sedikit susah payah melaluinya. Itu kusebut labirin perspektif. Aku senang menonton film animasi, dan menjadi Animator adalah salah satu label yang kutulis dalam daftar impianku. Sembari menonton aku bisa berkomentar sedikit kepada orang yang duduk disampingku yang lebih kerap hanya peneman ketimbang jadi penikmat tontonan. Dan perhatian yang menyurut itu tergantikan kegiatan lain, semisal tidur. Ada banyak yang dilakukan manusia, dan banyak juga yang tidak. Mereka menetapkan batasan waktu, ruang, dan...

Two Less People

Sloopy mendongakkan kepala, dan kedua matanya yang ijo-kekuningan berputar pelan seperti kompas memperhatikanku yang sedang diGoyang Duyu Project Pop. Baik... Siapa bilang aku tak bisa goyang di tempat? Soal ketidakbisaanku banyak. Tapi kalau sampai ada orang yang bilang aku tak bisa goyang, berarti dia cuma butuh cukup waktu untuk aku. Halah, siapa pula yang nanya? Mari kita mulai. ~~ di suatu waktu 1980-an~~ "Unang tangis ho..." Anak perempuan berusia 9 tahun itu merangkul adik laki-lakinya yang belum sempurna benar mengucapkan kata 'mulak'. Dia mengartikulasi kata ini dengan 'muyak' atau dalam bahasa Indonesia 'puyang' - pulang. Ia kemudian mendekapnya sambil menutup kedua daun telinga anak itu dengan kedua telapak tangannya ketika guntur menggelegar. Sementara itu, si Doli tiarap di atas kursi panjang, hatinya berdebar-debar tak karuan. Bukan karena tersentak ronggur dan kilat ungu yang mendahuluinya begitu cepat melintas, yang belakanga...

High Hills

Jejariku ( jemari pun jadi) berhenti menekan papan kunci (kibod atau keyboard pun jadi) karena baru saja merasa ada sedikit keganjilan pada bagian kalimat yang kuketik. Sumber teks bahasa Indonesia kualihkan ke bahasa Inggris. Bunyinya begini... Huruf kecil di belakang angka menunjukkan derajat perlakuan sebesar 5%, sedangkan huruf besar menunjukkan derajat perlakuan 1% . Ketika mengalihbahasakan kalimat ini, aku rasanya lancar-lancar saja. Tetapi begitu tiba pada tanda penghenti kalimat ( titik pun jadi), sensorku bergerak, dan membaca kembali hasil alihbahasa kalimat yang baru saja kubuat. Dan keganjilan itupun terdeteksi. Aku mengalihbahasakan huruf kecil dengan lower case , dan huruf besar dengan capital letter . Emangnya apa yang salah disitu? tanya orang pertama-ku yang risk averse dan enggan kritikan. Lalu, orang kedua-ku menjawab "aneh gitu loh. Tak ada yang salah memang. Hanya saja tuan kita tidak pernah pada saat yang sama keluar memakai sepatu untuk kaki kana...

So Young

Padangbulan, usai listrik mati - hidup kembali. Hari pertama listrik bolak-balik mati di Januari 2009. Semoga cuma short maintenance. Kalo sampe long maintenance, bisa sega rusakna . Download e-book setengah harian - ludes. Instalan juga ludes. Dengan sangat terpaksa musti disiapin hari ini juga. Ya terpaksa. Muka keriput, mau senyum dipaksain nanti bisa kayak Rina lagi maskeran sambil nonton mister Bean. Hassur! (Belom pernah liat? Bayangkan sendirilah...) Well, badanku dah pegal-pegal. Tapi begetepen , aku masih duduk manis disini. Padahal sudah setengah sepuluh. Malam. Esemes sepi, telepon sepi. Gak ada riak yang bisa buat garis bibir ini naik beberapa dot ke atas. Yeah, di tengah suasana panas, bete, keringat... mas Agoeng mutar lagu So Young-nya The Corrs. Aku pertama kali dengar lagu ini di 1999, ingat sesosok bang Hendrik si maniak komputer. Tidurnya cuma 3 jam sehari. Mata berlingkar eye-shadow, bukan karena dia suka pake stuff-nya wanita, tapi karena sudah tahunan begadang. ...

Apa Makna Kehidupan?

Minimal dua kali sehari aku berdiri di depan jendela kamarku, melayangkan pandangan ke luar. Pagi, sebelum beranjak kamar mandi dan sore atau malam menjelang tidur. Tidak pernah kulihat jalanan di bawah lengang, kecuali jika aku terjaga jam tiga hingga empat pagi. Setiap aku berdiri disitu dan memandang keluar, pertanyaan yang sama tetap muncul dari bilik otakku. Mengapa mereka sibuk? Untuk apa mereka sibuk? Tidakkah ada cara untuk memperpendek perjalanan? Lima tahun lalu, sudah sibuk, sekarang lebih sibuk, dan tahun-tahun ke depan akan semakin sibuk? Hei, ingin saja aku teriak, "mengapa kalian sibuk?" Apa karena dunia ini punya begitu banyak pekerjaan untuk diselesaikan setiap hari? Ya, mungkin begitu, tetapi catatan ekonomi bilang, dunia ini sedang krisis, banyak perusahaan merampingkan produksi, angka pengangguran makin bertambah. Tapi mengapa kalian sibuk? Hahaha. Jika aku tertawa, hanya menertawakan diri sendiri. Bukankah kata "sibuk" yang sama sering juga...

Mimpi Kalee

Tadi pagi saya dibanguni alarm HP. Sloopy menginjak tanganku saat berusaha untuk mematikannya (meski sampai sekarang dia belum pernah berhasil, paling juga henpon dibolak-balik...). Saya senyum-senyum sendiri. Senang! Kalau Sloopy ngerti, pasti matanya berbinar-binar. Tapi sayang, dia masih ngantuk berat, dan terbaring lagi. Sampai menulis postingan ini, saya masih senang, masih senyum-senyum sendiri, karena tadi malam jalan sama Agnes. Kalau Rina sedang baca post ini, pasti dia bilang: "si Agnes yang itu ya..." dan bla-bla. Bukan si Agnes yang itu Rin. Agnes Monica!. Sekarang giliran Anju yang komentar kalau dia baca postingan ini (random memory), "Mimpi kaleee bang..." Iya, emang mimpi. Mimpi tidur juga mimpi, dan mimpi bisa jadi kenyataan kan? Hahahhaa. Mimpi adalah bunga tidur, demikian ungkapan yang kerap kita dengar. Tetapi tidak jarang mimpi menjadi misteri bagi kita. Anda bisa mengingatnya saat bangun pagi, lalu esok lupa. Tetapi ada juga mimpi yang m...