Skip to main content

Aku bahagia - Coki dimana ya?

Aku mengatakan pada diriku sendiri, aku sedang bahagia. Bila kau ada disisiku menghampiri, kau akan bertanya mengapa? Dan kau pun mungkin ragu, karena aku tak fasih menjawab.
 

Aku tidak mengalami perubahan kontras, sehingga kau bisa mengerti dengan melihat. Dan pertanyaanmu sungguh kupahami, karena sifat afeksimu yang kusukai. Ah, aku masih disini, namun tanah hatiku makin subur hari demi hari - belakangan ini.

Aku mengurangi daftar komplain dan kritik terhadap diriku. Sebulan lalu, aku berulangkali berkata pada diri sendiri, berhentilah menghukum diri, kau harus memperlakukan dirimu lebih baik. Dan lihat, aku mau!

Aku berhenti menghitung tahun-tahun yang berlalu. Adakah kau masih menghitung kerugian akibat kemarau di masa lalu? Tak ada hujan untuk mengembalikan kekeringan tanah di masa lalu. Hujan yang kau nantikan adalah sekarang dan untuk esok.

Bukan karena setiap kebutuhanku sangat mudah terpenuhi - sehingga aku bahagia saat ini. Aku bahagia karena kutau ada jalan pengasih yang memerdekakan orang. Setiap mendengar tentangnya aku bahagia. Setiap belajar anjurannya aku bahagia.

Ya, aku bahagia ketika anjurannya melekat di pikiranku seraya aku terus belajar dan melakukan pekerjaanku.
Ah, sekian dulu curhatku. Sudah waktunya makan malam bukan?
Coki... bah, dimana kau? Sudah seharian tak nampak.

image source: CharlieBrown

Comments

Popular posts from this blog

Padangbulan Mati Lampu

Apakah puisi? adalah kata-kata pengias dan pengabur. Tanyalah sang pujangga, apa isi hatinya? ~~~ Terlihat, seorang pria menyeberang jalan sambil tertawa, seorang wanita berlangkah tiga per empat meter membelah kegelapan malam. Wahai, kemanakah para maniak elektronik ke manakah imajinasimu ketika Padangbulan mati lampu. Dan, pria ini setengah telanjang - setiap perbuatan malam melucuti jubah keperkasaannya. Di atas trotoar ia menangis, sebelum laporan pesan singkat yang tertunda: "…sayang, cukuplah sudah…"

Mempertanyakan Ide

Dalam ketiadaan ide, ada ide menuliskan ketiadaan ide, dan itu ide juga. Pohon meranggas tertiup angin senja juga ide, sebuah ide yang mengatakan keberadaan angin dan siklus hidup pohon yang meranggas - bukan ubanan. Jika kau menuliskan kata-kata di kotak posting tanpa ide - kecuali keinginan untuk menulis yang tidak jelas dalam pikiran, itu juga ide. Entah apa ide! Melempar pandangan ke jalanan macet dan kebisingan yang sudah biasa merongrong gua telinga juga ide, ide tentang orang-orang modern dengan sifat aneh, orang primitif saja tidak suka kebisingan, masih suka berbisik meski hanya ada dua orang yang berbicara. Dan itu adalah ide yang tidak diperhitungkan ide. Dan sekarang aku harus keluar karena satu pesan singkat yang baru kuterima, dan itu juga ide - untuk melangkahkan kaki ini keluar dan membawa tubuh ini pergi dengan kaki. Lagipula bukankah ini hampir magrib?

Sifu, Sloopy

Sifu, anak Chen, betina, hilang usia 7 bulan. Sifu punya saudara lain, juga betina diberi nama Sloopy karena senang tidur di atas sandal. Mau sandal bau atau baru tetap jadi tempat tidur favoritnya. Sifu yang selalu setia menemani saya waktu kerja. Jika tidak sedang sibuk dia akan tidur di atas meja, tapi kalau sedang sibuk dia tidur di belakang saya. Jadi saya harus berbagi tempat duduk untuk tempat tidurnya. Ini Sloopy, selain suka tidur di atas sandal juga suka mencari tempat yang agak tinggi alias manjat sana-sini untuk nongkrong. Waktu kecil saya kira bukan anak kucing. Jarang bersuara. Kalaupun mengeluarkan suara - bukan mengeong. Saya sering terbangun dari tidur ketika mereka masih kecil, karena suka melintas dari kepala sampai perut. Mereka kira saya catwalk . Seperti yang anda lihat, Sifu dan Sloopy bukan aristocats atau kucing berdarah ningrat. Mereka hanya anak kucing jalanan yang dititip induknya, karena harus mengikuti siklus hewani - kawin lagi. Banyak inspiras...