Skip to main content

Posts

Setidaknya Aku Bermimpi

mimpi itu menggelora meremas, mengerang ingin keluar wahai... lepaskan jalinan ikatan layangan diri sebelum atap bumi menghitam karena ini musim angin menganjuk mimpi kakimu bersegeralah melangkah ke arah bukit atau savana beratap langit biru dan berikan, jangan menghemat benang biar layangan mimpi itu mencapai cumullus selagi angin berhembus wahai... yang pernah teragukan bukankah ikatan telah kau lepas biar layangmu tertiup angin kini ia berhembus lebih banyak berbisik lebih banyak di daun telinga percayamu wahai... savana yang terawat, diatasmu langit biru digelar semesta bagi mimpi dan cintamu

Kolibri

Kolibri. Teringat satu judul dalam Apa dan Mengapa, ketika duduk di bangku kelas empat es-de. Mengapa burung kolibri melayang diam di udara? Hanya pikiran yang melayang - apa pendapat Anda ketika berbicara dengan perasaan? Sebutan keras kepala selalu kudengar ketika seseorang mengenalku cukup lama, atau cukup sering membicarakan masalah yang serius. Pada mulanya mereka terkesan karena mudah diajak berbicara, tetapi saat mereka memasuki wilayah tertentu, mereka bisa terhadang dan mesti sedikit susah payah melaluinya. Itu kusebut labirin perspektif. Aku senang menonton film animasi, dan menjadi Animator adalah salah satu label yang kutulis dalam daftar impianku. Sembari menonton aku bisa berkomentar sedikit kepada orang yang duduk disampingku yang lebih kerap hanya peneman ketimbang jadi penikmat tontonan. Dan perhatian yang menyurut itu tergantikan kegiatan lain, semisal tidur. Ada banyak yang dilakukan manusia, dan banyak juga yang tidak. Mereka menetapkan batasan waktu, ruang, dan...

Kita Menurutku

Kita, seperti ulat bulu di mata naga seperti geretan di mata kereta api astaga, baik masinis maupun keretanya punya api dan mengenduskan asap seenaknya tetapi, jangan potong dulu - aku hanya berbicara suatu masa. Kita, seperti semut di mata si mata besar entah apa - namailah sesuai akidah jika engkau ulat bulu, engkau pecinta bulu jika engkau geretan, engkau pecinta geret ngomong apa sih pemuisi? Kita, seperti nyanyian kanon makin usang - makin lupa terekam di kompak disk masa kini atau CD yang usang juga terlampau teknologi Kita, seperti deretan titik membentuk suatu tanda kombinasi tanda dengan tanda penghasil makna jadilah deretan titik yang jelas karena dari itu engkau terbaca.

Night

I write the night by turned it to thousands days before As I'm twenty two, I still play and run shameless hope all manger getting less. For now I'm twenty two - with brave heart and pony too.

Two Less People

Sloopy mendongakkan kepala, dan kedua matanya yang ijo-kekuningan berputar pelan seperti kompas memperhatikanku yang sedang diGoyang Duyu Project Pop. Baik... Siapa bilang aku tak bisa goyang di tempat? Soal ketidakbisaanku banyak. Tapi kalau sampai ada orang yang bilang aku tak bisa goyang, berarti dia cuma butuh cukup waktu untuk aku. Halah, siapa pula yang nanya? Mari kita mulai. ~~ di suatu waktu 1980-an~~ "Unang tangis ho..." Anak perempuan berusia 9 tahun itu merangkul adik laki-lakinya yang belum sempurna benar mengucapkan kata 'mulak'. Dia mengartikulasi kata ini dengan 'muyak' atau dalam bahasa Indonesia 'puyang' - pulang. Ia kemudian mendekapnya sambil menutup kedua daun telinga anak itu dengan kedua telapak tangannya ketika guntur menggelegar. Sementara itu, si Doli tiarap di atas kursi panjang, hatinya berdebar-debar tak karuan. Bukan karena tersentak ronggur dan kilat ungu yang mendahuluinya begitu cepat melintas, yang belakanga...

High Hills

Jejariku ( jemari pun jadi) berhenti menekan papan kunci (kibod atau keyboard pun jadi) karena baru saja merasa ada sedikit keganjilan pada bagian kalimat yang kuketik. Sumber teks bahasa Indonesia kualihkan ke bahasa Inggris. Bunyinya begini... Huruf kecil di belakang angka menunjukkan derajat perlakuan sebesar 5%, sedangkan huruf besar menunjukkan derajat perlakuan 1% . Ketika mengalihbahasakan kalimat ini, aku rasanya lancar-lancar saja. Tetapi begitu tiba pada tanda penghenti kalimat ( titik pun jadi), sensorku bergerak, dan membaca kembali hasil alihbahasa kalimat yang baru saja kubuat. Dan keganjilan itupun terdeteksi. Aku mengalihbahasakan huruf kecil dengan lower case , dan huruf besar dengan capital letter . Emangnya apa yang salah disitu? tanya orang pertama-ku yang risk averse dan enggan kritikan. Lalu, orang kedua-ku menjawab "aneh gitu loh. Tak ada yang salah memang. Hanya saja tuan kita tidak pernah pada saat yang sama keluar memakai sepatu untuk kaki kana...

The Truths that never can be proved

Are God and Nature then at strife, That Nature lends such evil dreams? So careful of the type she seems, So careless of the single life; That I, considering everywhere Her secret meaning in her deeds, And finding that of fifty seeds She often brings but one to bear, I falter where I firmly trod, And falling with my weight of cares Upon the great world's altar-stairs That slope thro' darkness up to God, I stretch lame hands of faith, and grope, And gather dust and chaff, and call To what I feel is Lord of all, And faintly trust the larger hope. Puisi ini ditulis oleh Alfred Tennyson dan telah dipublikasikan sebelum Charles Darwin menulis teori Evolusi tahun 1859. Frase Nature, red in tooth and claw sebanyak 56 kali diadopsi oleh penyair lain sebagai ungkapan yang mengetengahkan proses seleksi alam.